Showing posts with label CELOTEH. Show all posts
Showing posts with label CELOTEH. Show all posts

Thursday, December 12, 2013

Akhirnya Defensive medicine

Akhirnya Defensive Medicine
Akhirnya masa itu pun tiba, dulu ga kebayang kalau baca buku-buku ttg dokter di amerika kalau hal seperti ini akan terjadi di indonesia juga... Defensive Medicine.... Buat kita yg tahu, hal ini sangatlah mengerikan karna pengorbanannya bisalah nyawa....

Kejadiannya terjadi di saat aku jaga sebgai konsulen jaga kebidanan di salah satu RS negeri di jakarta (kalau boleh milih sih mending tidur di rumah). Di
sini kami diwajibkan untuk standby di RS jaga malam sebgai konsulen selama 24 jam alias tidur disana.

Di saat saya jaga kemarin tepatnya setelah kejadian aksi solidaritas bersama para dokter untuk menolak kriminalisasi itu, datanglah seorang pasien rujukan
dari RSUD. Pasien ini usia masih muda, sedang hamil tua anak pertamanya dia dirujuk karena eklampsia yaitu suatu keadaan keracunan kehamilan yg
mengakibatkan tensi tinggi dan kejang kejang....

Semua dokter obgyn pasti tahu apa yg harus sgra dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayinya yaitu lahirkan bayinya segera....

Pasien ini dirujuk karna membutuh NICU dan ICU untuk ibu dan bayinya....
Saat datang dia hanya dianter perawat RSUD itu naik ambulan, pasien dalam keadaan tidak sadar dan kejang berulang terus....

Di IGD kami tim medis segera melakukan tindakan pertolongan pertama karna ini adalah keadaan gawat darurat, seperti biasa bebaskan jalan nafas karna pasien tidak sadar sangat berbahaya bila dia tidak bernafas, pasang alat di mulut agar lidahnya tidak tergigit saat kejang, pasang oksigen, semua
perawat turun menangani pasien ini... Smua belerja bersama sekitar 5 orang team di IGD saat itu.... Ada yg pasang infus, memberikan oksigen, menjaga
jalan nafas, memberi obat anti kejang, ambil darah dan ada yg ikat tangan dan kaki pasien krna meronta ronta dll ....

Setelah semua life saving kita kerjakan, saya segera mengecek jantung bayi pasien, dug.... Dug....dug... Hanya 80 kali permenit..... Loncatlah jantung saya kelantai.... Yg ada di pikiran saya hanya bayi ini gawat dan hrs segera dioperasi kalau tidak bisa meninggal bersama sama ibunya...saya lakukan pemeriksaan dalam memang blm ada pembukaan satu satunya jalan yg bs saya lakukan adalah operasi CITO alias segera saat itu juga....

Dilakukanlah konsul persiapan operasi ke anestesi dan kardiologi krna tensi pasien mencapai 190/120.... Bisa stroke sewaktu waktu...

Setelah semua tindakan pertolongan pertama selesai saya lakukan saya segera mengambil kertas persetujuan untuk menjelaskan kondisi pasien dan
apa yg harus saya kerjakan dgn segala resikonya,, saya panggil bidan RSUD yg merujuk...
"Mana keluarganya bu?"
"Masih dijalan dok dari tangerang, katanya dua jam lagi baru nyampe karena macet"
"Masyaallah saya ga ada waktu selama itu, bayinya sdh gawat janin, apa ga bs ditelpon?"
"ga ada yg punya telpon dok, pasiennya ga mampu"
(menjerit hati saya, nelangsa.....apa yg mesti saya lakukan)

Saya ga berani melakukan tindakan operasi CITO tnpa persetujuan keluarga atau penjelasan terlebih dahulu, karena kasus teman saya ayu di manado...
Akhirnya saya ambil inisiatif untuk menelpon kepala departemen kebidanan untuk menanyakan kepada beliau apa yg mesti saya lakukan dalam
keadaan gawat begini...

"selamat malam dok saya ada pasien bla bla bla saya jelaskan pertelpon, saya hrus operasi segera dok bayinya gawat janin, tp keluarga ga ada,,.
Ditunggu saja atau gmna dok?"
" tunggu kata beliau, hukum kita ga jelas dan tdk melindungi kita, kalau nanti ibunya lewat atau bayinya juga meninggal kalu mau masuk penjara"
Jleeeebbb kaya pisau ditikam aku mendengarnya....

Ya Allah sedihnya hatiku, meskipun ga rela tapi apa daya akhirnya aku menuruti beliau untuk menunggu keluarga pasien smpai dtg baru kita lakukan operasi...
Di saat menunggu itu, tiba-tiba prrawat berteriak "dok pasien kejang lagi"
Dengan segera saya berlari menghampirinya, pasien kejang berulang segera saya berikan obat untuk mengurangi kejangnya,

Di saat genting begitu, seorang dokter umum jaga berkata mengingatkan saya
"dok, apa ga sebaiknya pasien di EKG takutnya kalau ada apa-apa, emboli dll, kita disalahkan". Sambil senyum saya katakan, "coba saja di ekg kalau
bisa".

Dokter umum itu sigap melakukan EKG dgn pasien tidak sdar trs meronta ronta smpai 15 menit EKG tdk bs dikerjakan...
"dik, bisa ga EKG nya??" Tanya saya
"ga bs dok, dok apa ga dikasi obat anti kejang biar tidur pasiennya"
Wealah " kamu mau pasienku tidur ya tanpa terintubasi jalan nafasnya dan bayinya juga smkn turun detak jantungnya"
Ya ga bisa dik, kata saya...makanya kalau Gawat itu kita ga bisa periksa rontgen dan EKG....
"saya lbh senang liat ibu itu meskipun ga sadar tp masi bisa meronta tandanya masih blm koma"
"dok, detak jantung bayinya 60-70 dok

Ya Allah, ampuni lah dosaku bila aku menjadi dokter yg egois yg lbh mementingkan keselamtan diriku sndiri dibandingkan keselamatan pasienku, ya allah berilah keduanya umur yg panjang berilah kesempatan padaku untuk menyelamatkan mereka semoga suami pasien cepat datang.

Hampir dua jam yang aku rasa seperti dua tahun menunggu dengan gelisah, akhirnya suami pasien datang dgn keluarga besarnya...
Ingin rasanya aku memuntahkan kekesalanku dan marahku karena mereka datang begitu lamaaaa..

Tapi saat melihat wajah wajah khawatir dan sedih, aku sungguh tdk sampai hati, "dokter gimana anak istri saya apa selamet? Apa sudah dioperasi??"
Segera lakukan dok biar anak dan istri saya selamat". "maaf pak saya blm bisa operasi".

Dengan muka agak marah keluarga pasien berkata "lho gmna sih dok kok ditunda tunda nanti istri dan bayi saya mati, dokter jangan menelantarkan istri
saya ya"

Sambil menghela nafas dan berusaha untuk ttp tenang dan tdk emosi" pak maaf saya ga bermaksud menunda operasi istri bapak, saya hanya menjalankan aturan yg ada pak", kalau saya terlantarkan istri bapak ga saya kasi obat dan infus,skrg drpada bapak marah marah saya jelaskan saja apa resiko buat ibu dan bayi saat operasi, kmgknan terburuk mulai stroke sampai
kematian atau koma ....

5 - 10 menit saya butuhkan untuk menjelaskan semuanya.
"pak skrg saya mau operasi doakan saya supaya semuanya selamat ya"
"usahakan yg terbaik dok yg pntg istri dan anak saya selamat"
"insyaallah pak saya lakukan yg terbaik"

Akhirnya satu jam kemudian operasi selsai dan si ibu dirawat di ICU dan bayi dirawat di NICU karena tidak langsung menangis ( ya iyalah gawat janin).

Alhamdullilaaaaah, ya Rabb yg punya nyawa manusia, satu hari rawat pasienku bisa bangun dr tidurnya alhamdullilah tensinya bisa turun, bayinya memang masi di NICU smga bs sembuh juga..

Hari ini hari keempat dia dirawat dan alhamdullilah kemungkinan besok sudah boleh pulang..... Dia bisa selamat bukan krna saya tapi krna Allah menolongnya.

Itulah sekelumit contoh DEFENSIVE MEDICINE yang akhirnya harus kita jalanin meskipun bertentangan dgn hati nurani saya sbgai seorang dokter, tp apa boleh buat meskipun UU kesehatan kita mengatakan dalam keadaan gawat seorang dokter boleh melakukan tindakan tnpa persetujuan keluarga, tp tampaknya HUKUM di negara kita ini memang tidak jelas, bisa dibolak balik seenak jaksa, hakim dan pengacara saja...

Contoh kasus teman sejawat saya dr Ayu di manado yg sekarang terpaksa mendekam dipenjara dan diperlakukan seperti kriminal karena meninggalnya
pasien gawat yg sdg dia coba tolong.. Dan Vonis hukuman yg dijatuhkan oleh hakim MA yg terhormat ini karena dikatakan dia tidak menjelaskan dan ada ijin dr keluarganya.

Bapak Hakim Ardjito yg terhormat, semoga apabila ada pasien pasien kami yg gawat yg harus meninggal krna anda bilang harus ada ijin keluarga dulu... Anda mau menanggung dosanya....
Semoga anda tidak pernah mengalami apa yg mereka alami...
Semoga peninjauan kembali kasus ini bisa dilaksanakan dan anda bisa berpikir jernih dan melihat substansi masalah dgn menanyakan kepada organisasi profesi kedokteran kebidanan yg lbh mengerti ya pak...

Wasalam
dr. Kartika Hapsari, SpOG
laanjut »»  

Thursday, November 28, 2013

Apakah kita membenci dokter?

Saya adalah seorang dokter, tepatnya Dokter Kecil, saya mendapatkan gelar tersebut saat saya masih di Sekolah Dasar setelah mengikuti sebuah pelatihan kesehatan diibukota kabupaten selama beberapa jam, gelar itu rasa-rasanya belum ada yang mencabutnya dari diri saya. Meski saya kesulitan membuktikannya karena serfitikatnya sudah hilang lama sekali.
Kita kembali ke pertanyaan diatas, apakah anda membenci dokter?.. jika iya, aduh, anda membenci saya juga dong.
Melihat perkembangan berita hari ini dimana demo para dokter telah menghasilkan lebih banyak cacian daripada dukungan. Lihat saja berbagai tulisan serta komentar-komentar yang ada lebih banyak kontra dan menilai negative kepada para dokter. Maka Fenomena ini saya sebut sebagai bentuk rasa kebencian masyarakat kepada para dokter atau seseorang yang berprofesi kepada dokter.
Komentar-komentar negative serta cacian yang terlontar itu memang lebih terlihat sangat emosional dan menuntut. Emosial karena biasanya berdasarkan pengalaman dia yang tidak menyenangkan ketika berinteraksi dengan dokter dan menuntut ketika mereka juga mengutarakan agar dokter lebih memperhatikan tanggung jawab profesinya yang diatas sumpah itu serta memberikan pelayanan yang lebih sempurna. Saat ini dianggap saat yang tepat untuk menghujat dokter secara bersama-sama dan meluapkan segala rasa kebencian sepuasnya.
Sungguh kasihan nasib dokter saat ini, ternyata banyak masyarakat membenci mereka
Fenomena ini menjadi menarik karena kita semua tahu bahwa dokter adalah Subjek vital dalam ranah kesehatan, masyarakat sebenarnya membenci seseorang dimana mereka sangat ketergantungan terhadapnya, membenci seseorang yang sebenarnya mereka sendiri tidak pernah lepas daripadanya. Lihat saja, ketika seseorang sakit maka kita biasanya menyarankan dia agar pergi ke dokter untuk memeriksa sakitnya, ketika anak kita sakit, kita membawanya ke dokter, apakah ada diantara kita yang membawa anak kita ke dukun? Atau menyarankan teman kita yang sakit agar sesegera mungkin membawanya ke dukun untuk diobati ? saya yakin orang-orang akan mengerutkan dahinya ketika mendengar pendapat anda. Bisa jadi teman anda atau istri atau suami kita langsung membenci kita dengan pendapat kita untuk membawa anak ke dukun.
Namun melihat komentar dan cacian yang ada, sepertinya rasa benci itu sudah terlanjur ada dan tumbuh. Sungguh saya menyarankan kepada mereka yang merasa ada rasa benci kepada dokter agar jangan berobat kepada dokter, berusahalah untuk menghindari dokter, saya takut rasa benci anda akan menjadi sesuatu yang berubah negative yang nyata dalam perilaku anda, seperti anda akan memukul dokter itu ketika anda tidak puas terhadap pelayanannya atau ketika penyakit anda tidak sembuh, atau bisa saja anda akan menuntutnya secara pidana. Sangat disarankan mulai sekarang dan secara secepatnya agar anda mencari alternative  pengobatan lain selain dokter. Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah rasa harga diri anda sebagai seseorang yang mempunyai rasa benci agar tidak menelan ludah sendiri. Sungguh malu rasanya jika hal itu terjadi.
Jika ada pertanyaan lagi seperti apa sih yang salah jika para dokter berdemo? Apalagi jika itu adalah sebagai bentuk solidaritas kepada teman mereka. apakah seseorang yang berprofesi sebagai dokter akan dicabut hak mereka untuk berdemontrasi di jaman kebebasan berpendapat dan mengungkapkan pendapat, dijaman demokrasi seperti saat ini?  Apakah dokter akan disamakan dengan TNI yang saat ini dinegara kita tidak mempunyai hak suara?
Jika kita membenci polisi, kita dapat menuntut mereka untuk dibubarkan digantikan dengan institusi Negara yang lain, seperti satpol PP atau TNI. Apakah kita bisa menuntut dokter dihapuskan dan digantikan dengan yang lain? Bagaimana jika nanti kita sakit?..bagaimana nanti jika anak kita nanti sakit?..
Para dokter memang terkadang menyebalkan, mereka kadang melayani kita tidak terlalu baik, mau gimana lagi, mereka manusia juga, lelah dan capek melayani pasien yang antre banyak, kita juga sama menyebalkannya bagi mereka, berbicara panjang lebar berkeluh kesah tentang penyakit kita, tidak patuh akan nasehat-nasehatnya, curhat kepada dokter dengan tanpa ingat waktu, tidak taat minum obat dan sebagainya, kadang kita marah dengan obat yang diresepkan dokter yang mahal, namun kita juga marah jika diberi obat yang murahan yang tidak paten. Para dokter yang kita benci itu rupanya memberikan sangat banyak untuk kita.
Atau jangan-jangan kita hanya cemburu dan iri dengan mereka,  sewaktu kecil di sekolah taman kanak-kanak ketika ditanya apa cita-cita kita? Jika jujur menjawab, sebagian dari kita mungkin memberi jawaban ingin menjadi dokter. Orang tua kita pun dengan bangganya dengan cita-cita tersebut. Ketika waktu berlalu kita-kita ini malah gagal mencapai cita-cita atau malah bermimpi dengan impian cita yang lain. Kecemburuan dan rasa iri dengki adalah sungguh bukan lah hal yang baik, itu memakan kebaikan kita sendiri sendiri.
Menjadi dokter? Apa sih enaknya jadi dokter? Kuliahnya lama, ada yang mengatakan kuliah dokter itu mahal pula? Setelah lulus kuliah harus ikut KOAS selama beberapa tahun sebagai syarat profesi, haa katanya capek dan lelah luar biasa, siang dan malam di rumah sakit dibawah bimbingan, kadang gagal kadang berhasil mendapat nilai yang baik dan lulus. Saat ini katanya ada tambahan lagi, setelah KOAS harus magang selama beberapa tahun untuk mendapatkan gelar Dokter. Saya pribadi tidak mau menjadi dokter, untuk apa juga, saya tidak sanggup dan tidak senang dengan pekerjaan dirumah sakit yang bau obat dan bau darah, apalagi jika ruangan saya bersebelahan dengan kamar mayat. Saya akan senang jika ada surat resmi yang bisa mencabut gelar Dokter kecil saya agar saya bisa terbebas dari beban saya dan saya tidak perlu terikat dengan yang namanya kemanusiaan lagi. Apalagi saya juga dibenci orang dengan gelar itu.
Atau apakah kita boleh atau dapat berpikir kembali akan rasa benci kita terhadap para dokter ini? Apakah rasa benci kita ini adalah benar? Apakah rasa benci kita ini adil pada mereka atau diri kita sendiri?
Bagaimana jika kita juga bisa melihat tuntutan mereka dalam demo tersebut ? mungkin saja tuntutan mereka untuk lebih bisa menenangkan hati mereka dalam melayani kita, agar mereka tidak takut mengobati anak kita, agar mereka tidak takut menyuntikkan obat kepada kepada kita yang sakit dan sebagainya. Bisa saja tuntutan mereka itu adalah untuk kebaikan kita juga. Maka berikan lah mereka kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Tidak lah usah kita mencaci mereka, jika saja mereka berpaling arah membenci kita maka tidak lah selama ini mereka berusaha mengobati kita, mengobati anak kita, mengobati keluarga kita, mereka menyayangi kita dengan keterbatasan mereka, tidak ada dokter yang ingin pasiennya terus sakit, maka tidak ada dokter yang senang ketika pasiennya mati, itu akan selalu menghantui mereka.
Penilaian saya selanjutnya akan berbagai komentar negative dan cacian kepada para dokter ini adalah bahwa rasa benci itu merupakan bagian dari rasa cinta, masyarakat sebenarnya membenci dokter karena mereka mencintai dokter, dokter adalah jantung hati masyarakat, seperti nama jantung itu sendiri dalam bahasa arab disebut Kalbu, artinya adalah sesuatu hal yang berbolak-balik, kadang-kadang hati kita senang dan sesaat kemudian hati kita menjadi sedih. kadang benci kadang cinta, Dokter dan masyarakat sebenarnya saling mencintai satu sama lain.


Oleh: Alfianoor Ansyarullah Naim via kompasiana
laanjut »»  

salah dokter !!!

Ga ada ambulans? Salah dokter! (emangnya dokternya yg punya ambulans? sekalian aja jd supirnya)
Ga kebagian ICU? Salah dokter! (emangnya dokter yg bikin ICU dan ngeluarin duit buat beli bed + alat?)
Ditarik uang muka dgn tdk manusiawi? Salah dokter! (emangnye dokter merangkap owner + admin RS gitu ya?)
Perawat pada jutek? Salah dokter! (hellooow kami bukan john Robert Power kaleee, ya cemberut klo gaji merek ditunggak mulu, pasien mbludak melebihi kapasitas)
Berobat kok mahal amat?? Salah dokter! (jasa medis aja kecil bgt dan berbulan2 baru dibayarin, situ tau ga kalo alkes dikenai pajak barang mewah?)
WC RSnya jorok banget??? Salah dokter!
Antrinya ga manusiawi deh!! Ya salah dokter juga!
Ini RS parkirannya semrawut deeeh!!! Ya salah dokter juga lhaaaa!!!
 




Yaaaa Tuhaaaaaannn.... tolong bikinin neraka baru untuk para dokter ini... Kenapa semua jadi salah kami ya Tuhan....
#RIPsistemkesehatanIndonesia


Dilla Mariam Amouzegar
laanjut »»  

Wednesday, November 27, 2013

Puisi Permintaan Maaf dari Dokter Indonesia



27 November 2013 pukul 15:41

PUISI PERMINTAAN MAAF
dari dokter Indonesia.
Barangkali inilah saatnya
Ketika langkah kita tak boleh berhenti begitu saja
Karena penguasa tak mau peduli
Ketika kita telah dikriminalisasi
Padahal telah bekerja sesuai standar profesi
Maafkan kami para dokter yang terluka
Kalau suatu hari nanti kami mau cuti bersama
Karena sudah terlalu letih kami bekerja
Melaksanakan profesi menyelamatkan nyawa
Dan meningkatkan kualitas hidup bangsa
Jangan bilang dokter mogok kerja
Bukankah cuti bersama boleh saja
Walaupun bersama sama seluruh Nusantara?
Dan jangan bilang ini arogansi semata
Karena kami juga manusia biasa
Ya, kami memang manusia biasa
Yang kecewa ketika diperlakukan tanpa rasa
Yang terluka ketika disiram kopi panas di wajah ini
Yang tak berdaya ketika dipenjara
Yang terhina ketika iklan bohong kesehatan dibiarkan merajalela
Padahal korban berjatuhan di mana mana
Maafkan kami kalau suatu hari nanti kami cuti bersama
Tetapi janganlah bingung dan kecewa
Karena kalian boleh datangi mereka
Yang mampu sembuhkan kanker payudara tanpa obat apalagi operasi
Yang sembuhkan kanker peranakan dengan ramuan asli
Yang sembuhkan AIDS dalam tiga bulan
Yang sembuhkan impoten dengan ramuan tanaman
Dan yang sanggup mengembalikan keperawanan
Sulit kami mengerti mengapa penguasa melakukan pembiaran
Padahal semuanya ini jelas penipuan
Sementara dokter terus ditekan
Dan akhirnya masuk rumah tahanan
Masih adakah di negeri ini keadilan dan kebenaran?
Akhirnya maafkan kami wahai para penguasa negeri ini
Karena walaupun kami tak kalah dengan dokter di luar negeri
Tetapi kami tak mampu mengatasi penyakit gemar korupsi
Sanur, Bali, 21 November 2013.


Prof DR dr Wimpie Pangkahila



laanjut »»