Saya
adalah seorang dokter, tepatnya Dokter Kecil, saya mendapatkan gelar
tersebut saat saya masih di Sekolah Dasar setelah mengikuti sebuah
pelatihan kesehatan diibukota kabupaten selama beberapa jam, gelar itu
rasa-rasanya belum ada yang mencabutnya dari diri saya. Meski saya
kesulitan membuktikannya karena serfitikatnya sudah hilang lama sekali.
Kita kembali ke pertanyaan diatas, apakah anda membenci dokter?.. jika iya, aduh, anda membenci saya juga dong.
Melihat
perkembangan berita hari ini dimana demo para dokter telah menghasilkan
lebih banyak cacian daripada dukungan. Lihat saja berbagai tulisan
serta komentar-komentar yang ada lebih banyak kontra dan menilai
negative kepada para dokter. Maka Fenomena ini saya sebut sebagai bentuk
rasa kebencian masyarakat kepada para dokter atau seseorang yang
berprofesi kepada dokter.
Komentar-komentar
negative serta cacian yang terlontar itu memang lebih terlihat sangat
emosional dan menuntut. Emosial karena biasanya berdasarkan pengalaman
dia yang tidak menyenangkan ketika berinteraksi dengan dokter dan
menuntut ketika mereka juga mengutarakan agar dokter lebih memperhatikan
tanggung jawab profesinya yang diatas sumpah itu serta memberikan
pelayanan yang lebih sempurna. Saat ini dianggap saat yang tepat untuk
menghujat dokter secara bersama-sama dan meluapkan segala rasa kebencian
sepuasnya.
Sungguh kasihan nasib dokter saat ini, ternyata banyak masyarakat membenci mereka
Fenomena
ini menjadi menarik karena kita semua tahu bahwa dokter adalah Subjek
vital dalam ranah kesehatan, masyarakat sebenarnya membenci seseorang
dimana mereka sangat ketergantungan terhadapnya, membenci seseorang yang
sebenarnya mereka sendiri tidak pernah lepas daripadanya. Lihat saja,
ketika seseorang sakit maka kita biasanya menyarankan dia agar pergi ke
dokter untuk memeriksa sakitnya, ketika anak kita sakit, kita membawanya
ke dokter, apakah ada diantara kita yang membawa anak kita ke dukun?
Atau menyarankan teman kita yang sakit agar sesegera mungkin membawanya
ke dukun untuk diobati ? saya yakin orang-orang akan mengerutkan dahinya
ketika mendengar pendapat anda. Bisa jadi teman anda atau istri atau
suami kita langsung membenci kita dengan pendapat kita untuk membawa
anak ke dukun.
Namun melihat
komentar dan cacian yang ada, sepertinya rasa benci itu sudah terlanjur
ada dan tumbuh. Sungguh saya menyarankan kepada mereka yang merasa ada
rasa benci kepada dokter agar jangan berobat kepada dokter, berusahalah
untuk menghindari dokter, saya takut rasa benci anda akan menjadi
sesuatu yang berubah negative yang nyata dalam perilaku anda, seperti
anda akan memukul dokter itu ketika anda tidak puas terhadap
pelayanannya atau ketika penyakit anda tidak sembuh, atau bisa saja anda
akan menuntutnya secara pidana. Sangat disarankan mulai sekarang dan
secara secepatnya agar anda mencari alternative pengobatan lain selain
dokter. Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah rasa harga diri anda
sebagai seseorang yang mempunyai rasa benci agar tidak menelan ludah
sendiri. Sungguh malu rasanya jika hal itu terjadi.
Jika
ada pertanyaan lagi seperti apa sih yang salah jika para dokter
berdemo? Apalagi jika itu adalah sebagai bentuk solidaritas kepada teman
mereka. apakah seseorang yang berprofesi sebagai dokter akan dicabut
hak mereka untuk berdemontrasi di jaman kebebasan berpendapat dan
mengungkapkan pendapat, dijaman demokrasi seperti saat ini? Apakah
dokter akan disamakan dengan TNI yang saat ini dinegara kita tidak
mempunyai hak suara?
Jika kita
membenci polisi, kita dapat menuntut mereka untuk dibubarkan digantikan
dengan institusi Negara yang lain, seperti satpol PP atau TNI. Apakah
kita bisa menuntut dokter dihapuskan dan digantikan dengan yang lain?
Bagaimana jika nanti kita sakit?..bagaimana nanti jika anak kita nanti
sakit?..
Para dokter memang
terkadang menyebalkan, mereka kadang melayani kita tidak terlalu baik,
mau gimana lagi, mereka manusia juga, lelah dan capek melayani pasien
yang antre banyak, kita juga sama menyebalkannya bagi mereka, berbicara
panjang lebar berkeluh kesah tentang penyakit kita, tidak patuh akan
nasehat-nasehatnya, curhat kepada dokter dengan tanpa ingat waktu, tidak
taat minum obat dan sebagainya, kadang kita marah dengan obat yang
diresepkan dokter yang mahal, namun kita juga marah jika diberi obat
yang murahan yang tidak paten. Para dokter yang kita benci itu rupanya
memberikan sangat banyak untuk kita.
Atau
jangan-jangan kita hanya cemburu dan iri dengan mereka, sewaktu kecil
di sekolah taman kanak-kanak ketika ditanya apa cita-cita kita? Jika
jujur menjawab, sebagian dari kita mungkin memberi jawaban ingin menjadi
dokter. Orang tua kita pun dengan bangganya dengan cita-cita tersebut.
Ketika waktu berlalu kita-kita ini malah gagal mencapai cita-cita atau
malah bermimpi dengan impian cita yang lain. Kecemburuan dan rasa iri
dengki adalah sungguh bukan lah hal yang baik, itu memakan kebaikan kita
sendiri sendiri.
Menjadi dokter?
Apa sih enaknya jadi dokter? Kuliahnya lama, ada yang mengatakan kuliah
dokter itu mahal pula? Setelah lulus kuliah harus ikut KOAS selama
beberapa tahun sebagai syarat profesi, haa katanya capek dan lelah luar
biasa, siang dan malam di rumah sakit dibawah bimbingan, kadang gagal
kadang berhasil mendapat nilai yang baik dan lulus. Saat ini katanya ada
tambahan lagi, setelah KOAS harus magang selama beberapa tahun untuk
mendapatkan gelar Dokter. Saya pribadi tidak mau menjadi dokter, untuk
apa juga, saya tidak sanggup dan tidak senang dengan pekerjaan dirumah
sakit yang bau obat dan bau darah, apalagi jika ruangan saya
bersebelahan dengan kamar mayat. Saya akan senang jika ada surat resmi
yang bisa mencabut gelar Dokter kecil saya agar saya bisa terbebas dari
beban saya dan saya tidak perlu terikat dengan yang namanya kemanusiaan
lagi. Apalagi saya juga dibenci orang dengan gelar itu.
Atau
apakah kita boleh atau dapat berpikir kembali akan rasa benci kita
terhadap para dokter ini? Apakah rasa benci kita ini adalah benar?
Apakah rasa benci kita ini adil pada mereka atau diri kita sendiri?
Bagaimana
jika kita juga bisa melihat tuntutan mereka dalam demo tersebut ?
mungkin saja tuntutan mereka untuk lebih bisa menenangkan hati mereka
dalam melayani kita, agar mereka tidak takut mengobati anak kita, agar
mereka tidak takut menyuntikkan obat kepada kepada kita yang sakit dan
sebagainya. Bisa saja tuntutan mereka itu adalah untuk kebaikan kita
juga. Maka berikan lah mereka kesempatan untuk menyampaikan aspirasi
mereka.
Tidak lah usah kita
mencaci mereka, jika saja mereka berpaling arah membenci kita maka tidak
lah selama ini mereka berusaha mengobati kita, mengobati anak kita,
mengobati keluarga kita, mereka menyayangi kita dengan keterbatasan
mereka, tidak ada dokter yang ingin pasiennya terus sakit, maka tidak
ada dokter yang senang ketika pasiennya mati, itu akan selalu menghantui
mereka.
Penilaian saya selanjutnya
akan berbagai komentar negative dan cacian kepada para dokter ini
adalah bahwa rasa benci itu merupakan bagian dari rasa cinta, masyarakat
sebenarnya membenci dokter karena mereka mencintai dokter, dokter
adalah jantung hati masyarakat, seperti nama jantung itu sendiri dalam
bahasa arab disebut Kalbu, artinya adalah sesuatu hal yang
berbolak-balik, kadang-kadang hati kita senang dan sesaat kemudian hati
kita menjadi sedih. kadang benci kadang cinta, Dokter dan masyarakat
sebenarnya saling mencintai satu sama lain.
Oleh: Alfianoor Ansyarullah Naim via kompasiana
No comments:
Post a Comment